Sedekah

Posted: November 16, 2011 in Review, Wacana
Tag:, , , , ,

Sedekah itu simpul, simpul antara ketauhidan dan keuangan.

Sedekah ini berasal dari bahasa Arab صدقة yang artinya benar. Tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan ini tidak melulu berlaku untuk umat Islam, tetapi juga seluruh umat manusia.

Simpul antara ketauhidan dan keuangan akan saya sederhanakan dalam tulisan ini.

Manusia sebagai makhluk ciptaan lahir tanpa membawa apa – apa. Namun, herannya manusia selalu ketakutan kehilangan apa – apa yang ia sebenarnya tidak ia miliki. Kalau kata twitnya bang Ippho, “Manusia di dunia hanya memiliki hak pakai saja, hak milik tetap milik Allah.” 

Sebentar, saya agak sedikit bingung harus mulai darimana. Saya harap para pembaca menggunakan otak Kanannya untuk membaca tulisan saya kali ini.

Teringat kata Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, “Kita bekerja bukan untuk demi mendapatkan uang, tetapi uanglah yang bekerja untuk kita selama 24 jam.” Ia menekankan agar menyisihkan uang untuk kemudian menyuruhnya bekerja, dalam hal ini adalah invetasi. Uang bukan dibelanjakan untuk kebutuhan yang sebenarnya adalah hanya keinginan atau nafsu sesaat manusia. Padahal sesungguhnya setelah memenuhi kebutuhan tersebut malah muncul kebutuhan – kebutuhan lainnya yang terus meningkat hingga tiada habisnya. Namun, uang sendirinya seharusnya bekerja untuk kita kemudian membiayai segala kebutuhan kita. Biarkan uang itu terus terakumulasi, bukan maksud menimbun, tapi terus berputar dan berguna tepat pada waktunya.

Sekali lagi, saya menggunakan sudut pandang Kiyosaki, beberapa orang akan menyekolahkan anaknya dengan menabung terlebih dahulu, bekerja keras mendapatkan uang, dan bekerja lebih keras untuk mendapat uang yang lebih demi pendidikan anak – anaknya nanti. Beberapa orang ini ia klasifikasikan dalam orang miskin dan menengah. Terdengar sangat kapitalis, namun klasifikasinya ini berdasarkan cara orang – orang itu berpikir, apakah nantinya menjadi orang kaya atau orang yang terjebak dalam kehidupan miskin mereka.

Namun, hal itu tidak dilakukan oleh orang kaya. Mereka sibuk menyibukkan uang – uang mereka untuk terus bekerja. Bahkan di saat mereka tertidur pulas, uang – uang mereka itu terus berputar dan siap membiayai kehidupan dan pendidikan anak – anaknya nanti.

Bagi saya, investasi tidak cukup. Menjadi kaya itu tidak cukup hanya memberi kepada keluarga sendiri. Terasa jauh lebih kaya ketika kita bisa memberi kepada orang lain. Bahkan mungkin membiayai kehidupan dan pendidikan anak – anak orang lain. Nah, tindakan memberi ini bisa kita masukan ke dalam wilayah sedekah.

Mengapa harus sedekah?

261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. 

Inilah yang seharusnya ditanam baik – baik ke dalam anak – anak Islam yang masih membaca Iqro. Diajarkan memberi. Dengan bersedekah di jalan Allah. Tidak perlu Islam dan ikhlas untuk bersedekah jika hanya ingin mendapatkan balasan dari-Nya di dunia. Bill Gates merupakan orang kaya. Apa yang ia kerjakan tidak hanya berinvestasi dari “Jendela – jendela buatannya“, ia memiliki banyak yayasan sosial. Inilah yang mempertahankan kekayaannya.

Nilai tambah untuk umat Muslim yang ikhlas dalam bersedekah. Balasannya sudah disiapkan Allah di  akhirat nanti.

Lalu di mana simpulnya?

Bang Ippho berhasil melakukan brainwash terhadap mindset saya mengenai sedekah dalam bukunya Tujuh Keajaiban Rezeki. Semakin banyak kita memberi semakin banyak pula yang akan kita terima. Kutipan ayat di atas sudah cukup jelas, 700 kali lipat kalau boleh saya hitung. Saya sudah merasakannya. Rezeki yang disebar oleh Allah dengan mudahnya akan kita dapatkan dengan perbanyak bersedekah. Dari sini, saya tambahkan tingkatan di atas orang kaya, yaitu orang yang bersedekah, terutama yang ikhlas. Masalah istilah untuk sebutan orang di atas orang kaya itu terserah kesepakatan pembaca saja.

Setelah orang miskin dan menengah bekerja demi uang, kemudian orang kaya yang mempekerjakan uangnya, muncullah orang yang bersedekah ini, ia membiarkan Allah yang Menjadi bendahara bagi keuangannya, Allah Mahacepat perhitungan-Nya. Keikhlasannya memberanikannya ia memberi kepada orang lain, jauh berbeda dengan orang miskin dan menengah yang memprioritaskan kebutuhan pribadinya yang semu yang nantinya justru memunculkan kebutuhan – kebutuhan lainnya. Juga berbeda dengan orang kaya yang yang dibiayai uang – uangnya tersebut, orang yang bersedekah tidak mengutamakan hanya dirinya saja yang dibiayai oleh uang – uang itu, melainkan juga orang lain. Orang yang bersedekah, setelah memperoleh dari pekerjaan uangnya, ia tidak langsung memikirkan dirinya sendiri.

Setelah mampu berinvestasi, mempekerjakan uang selama 24 jam, kemudian berbagi kepada orang lain menjadikan kita jauh lebih kaya. Kaya tidak hanya secara jasmani, tetapi juga rohani. Biar yang Allah terus Melipatgandakan uang yang telah kita sedekahkan, maka nilai investasi kita menjadi 700 kali lipat.

Setelah berpanjang lebar, saya harap pembaca bisa menjadi lebih kaya daripada saat sebelum membaca tulisan ini. Berani bersedekah dan tidak lagi hidup dalam ketakutan menjadi miskin.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s